Sumba

Pulau Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas wilayahnya 10.710 km², dan titik tertingginya Gunung Wanggameti (1.225 m). Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah selatan dan barat.

Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini sendiri terdiri dari empat kabupaten: Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Tengah, dan Kabupaten Sumba Timur. Kota terbesarnya adalah Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sumba

Sumba
Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Apabila para Landscaper berasal dari Jakarta, maka pilihan transportasi untuk mencapai Sumba adalah dengan menggunakan pesawat. Di Sumba Timur terdapat bandara Bandar Udara Internasional Umbu Mehang Kunda yang terletak di Kota Waingapu. Penerbangan dari Jakarta akan transit di Denpasar ataupun Kupang lebih dulu. Di Sumba Barat terdapat Bandar Udara Tambolaka.

Kapan Harus Berkunjung?

Karena Sumba berada di Indonesia Timur, maka dapat dikunjungi sepanjang tahun. Karena pada saat musim hujan pun curah hujan di Sumba akan lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian barat. Bagi para Landscaper yang ingin melihat hijaunya padang rumput/savana di Sumba maka dapat berkunjung di musim hujan, yaitu sekitar Desember - Maret.

Nginap Dimana
Padadita Beach Hotel

Padadita Beach Hotel dapat dijadikan salah satu pilihan Anda untuk menginap di Waingapu.

photo by @harlim

Spots

Sudah tidak sabar dengan Spots eksotis di Sumba Timur? Landscaper.id akan selalu mengabarkan Spots terbaik di tanah eksotis dan indah Sumba. 

Dibalik Lensa
Harlim

Banyak alasan mengapa Sumba belakangan ini menjadi destinasi hits baik untuk turis lokal maupun wisatawan asing. Buzz atau celotehan soal Sumba ini seperti tidak habis- habisnya sepanjang tahun 2017. Beruntung sekali, saya ada kesempatan untuk hunting foto di tanah misterius Sumba, NTT. Dan dari trip ini, saya jadi tahu firsthand kenapa memang Sumba layak banget buat dikunjungi.

Mengenal Sumba Lebih Dekat

Pulau Sumba terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur alias salah satu pulau paling bawah di peta Indonesia. Salah satu perbatasan yang lebih akrab di telinga kita adalah Flores, tepatnya yang terletak di sisi timur laut dari Sumba.

Ada dua kota besar di Pulau Sumba yang juga merupakan jalur transportasi untuk pengunjung. Pertama adalah melalui jalur Barat via kota Waitabula dengan bandara udara Tambolaka ( rute Kupang). Kedua adalah melalui ibukota Sumba Selatan yaitu Waingapu yang juga punya bandara udara sendiri ( rute Bali).

Untuk short trip, saya pribadi lebih menyarankan via Bali karena hanya akan menyita waktu setengah hari. Selain itu, Waingapu juga pilihan yang tepat jika kamu mencari alternatif tur lokal dan pilihan makanan.

Jadi Destinasi Hits, Ada Apa Dengan Sumba?

Banyak alasan mengapa Sumba terus berdengung popularitasnya belakangan ini. Ada beberapa faktor penyebabnya antara lain exposure dari Hotel Nihiwatu yang didapuk sebagai World’s Best Hotel 2016 versi majalah US Travel + Leisure. Hotel di Sumba Barat ini berhasil ngalahin deretan hotel berkelas internasional di seluruh dunia, jadi kebayang kan animo yang diciptakan dari prestasi ini?

Kedua adalah branding via artis- artis Indonesia seperti Dian Sastro dan Nicholas Saputra dari AADC, sampai Tara Basro. Ini masih hanya di awal saja, karena masih akan banyak branding via artis di tahun- tahun mendatang yang akan menjadikan Sumba sebagai the next Bali.

Ketiga adalah muatan budaya lokal yang memang fantastis dan punya unsur magis tak terkalahkan. Dari Gerakan #humbaailulu yang Sumba abis, festival Pasola yang eksotis, sampai tenun ikat yang akrab melekat di setiap travel blogger, memang Sumba punya daya pikat ala lokal yang lain daripada destinasi lain.

Walaupun kombinasi alasan itu semua terdengar “menjual”, bagi saya cukup satu alasan mengapa Sumba jadi destinasi hits, yaitu pesona alamnya yang sungguh istimewa. Kamu harus mengalaminya sendiri untuk tahu persis keindahan Sumba, dani mudah-mudahan hasil hunting foto saya berikutnya bisa cukup menggelitik rasa ingin tahumu atau bahkan, membuatmu segera berencana pergi ke Sumba.

Sumba Dari Lensa Kamera & Jurnal Pribadi

Trip pertama ke Sumba, saya menggunakan rute Bali dengan perjalanan sekitar lima setengah jam. Dari balik awan di langit Sumba, sudah terlihat gundukan- gundukan rendah berwarna coklat gersang menandai musim kemarau yang bercampur dengan ngarai hijau. Terlihat juga garis- garis pantai landai yang panjang. It’s love at first sight!

Setelah mendarat, Waingapu terasa lebih seperti sebuah kota di Afrika daripada di Indonesia. Berhubung sedang musim kemarau, langit sedang biru- birunya dan matahari lagi bersinar terik. Langsung saya ke tujuan utama yaitu Puru Kambera, sebuah savana berwarna kuning keemasan dengan belaian angin musim kemarau di langit biru.

Namun karena tersihir oleh tarian rumput dan siluet pohon, langit sudah keburu gelap saat saya bereksplorasi di pantai Walakiri. Untungnya, langit tampaknya berbaik hati, karena tarian rumput kini berganti menjadi pertunjukan first seat dengan permadani seribu bintang di hadapan mata.Keindahan Puru Kambera tidak hanya berhenti sampai di padang savana bervegetasi liar ini saja, tetapi pada wisata pantai dengan hamparan pasir putih halusnya di pantai Walakiri.

Bumbungan awan malam hari berbalut dengan kerlipan cahaya bintang- bintang di malam hari malah menjadikan suasana pantai Walakiri semakin eksotis dan penuh magis yang mengundang. Dalam hati, saya bertekad untuk kembali lagi pada saat sunrise. Saya bertanya apakah matahari terbit di pantai Walakiri akan seindah wajahnya di saat malam?

 

Pastinya, trip pertama saya ini belum berakhir, tapi hanya permulaan dari petualangan di Tanah Sumba yang luar biasa indahnya.